Israel melancarkan serangan udara di perbatasan Lebanon pada Senin (9/10/2023), menewaskan tiga militan Hizbullah dan seorang tentara nasional Zionis. Serangan itu terjadi ketika Israel dan milisi Palestina,Hamas terlibat perang baru di Jalur Gaza sejak Sabtu (7/10).
Dikutip dari cnnindonesia.com dalam sebuah pernyataan, Hizbullah menyebut tiga anggotanya tewas dalam “agresi” Israel di selatan Lebanon pada Senin sore waktu setempat. Dua sumber keamanan Lebanon juga mengatakan kepada Reuters bahwa dua anggota Hizbullah lainnya meninggal dunia.
Militer Israel mengatakan wakil komandannya, Letkol Alim Abdullah, tewas dalam serangan perbatasan. Namun belum diketahui rincian lebih lanjut mengenai kejadian ini.
Pada Minggu (8 /10), kedua negara saling serang dengan roket dan artileri.
Penduduk Lebanon selatan meninggalkan rumah mereka secara massal setelah konflik menyebar ke wilayah tersebut, kata penduduk setempat.
Kantor Berita Lebanon melaporkan lalu lintas terhenti di jalan-jalan utama ketika warga mengungsi. Sekolah-sekolah di wilayah tersebut juga akan tetap tutup pada Selasa (10/10).
Hizbullah dan Israel memiliki sejarah hubungan yang kuat. Kedua negara bertempur selama sebulan pada tahun 2006.
Serangan di Lebanon terjadi di tengah meningkatnya eskalasi di Jalur Gaza setelah milisi Palestina Hamas menyerang pasukan Israel di wilayah tersebut pada akhir pekan.
Hamas melancarkan serangan pada Sabtu (7 Oktober) dalam apa yang mereka sebut sebagai operasi untuk mengakhiri pendudukan terakhir di planet ini.
Militer Israel pun tak tinggal diam dan membalas serangan Hamas dengan Operasi Pedang Besi. Operasi Israel ini menyasar infrastruktur Hamas di Jalur Gaza.
Saling serang ini terus berlanjut hingga saat ini. Ratusan orang tewas akibat serangan tersebut.
Menurut televisi Israel, sedikitnya 900 warga Israel tewas dan 2.600 lainnya luka-luka.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 600 warga Palestina tewas dan 3.726 orang luka-luka.
